Berita Terkini

Berita dan Artikel

  • Home
  • /
  • Berita
  • /
  • Ayo Cegah Resistensi Antibiotika
Ayo Cegah Resistensi Antibiotika
Persi Bali 17 December 2024 Kesehatan

Ayo Cegah Resistensi Antibiotika

Dr Putu Arya Nugraha SpPD FINASIM - PERSI Bali
Sebelum ditemukannya obat golongan antibiotka, jumlah kematian manusia akibat penyakit infeksi di bumi sangat banyak. Setelah antibiotika ditemukan, angka kematian menurun secara drastis. Demikan pula angka kesakitan dapat diturunkan secara signifikan dan tentu saja kemudian berhasil meningkatkan derajat kesehatan manusia di dunia. Namun demikian, kini umat manusia kembali berhadapan dengan ancaman kesehatan yang sangat serius. Ancaman peningkatan kembali risiko kesakitan dan kematian akibat infeksi yang sulit diatasi akibat terjadinya resistensi antibiotika. Meskipun fenomena ini lebih banyak terjadi di benua Asia Afrika, termasuk Indonesia, namun tentu saja penyebarannya dapat menjalar ke seluruh dunia. Hal ini mirip dengan pandemi Covid-19 yang menyebar secara global akibat interaksi manusia yang boleh disebut tanpa batas sepanjang waktu.

            Resistensi antibiotika adalah suatu keadaan ketika mikroba yaitu bakteri, jamur dan protozoa, kebal terhadap antibiotika yang diandalkan untuk membasmi mereka. Akibatnya tentu saja pasien yang mengalami infeksi tersebut sulit sembuh. Perawatan menjadi lebih lama bahkan risiko kematian menjadi meningkat. Dampak berikutnya adalah biaya perawatan bertambah yang secara langsung juga meningkatkan beban ekonomi negara. Kematian tentu saja menyisakan masalah psikososial yang berat. Kondisi ini diperberat lagi karena di saat ancaman resistensi antibiotika semakin besar, penemuan jenis antibiotika yang baru sangatlah terbatas. Dapat dibayangkan kelak terjadi kondisi buntu yang sangat menakutkan. Ibaratnya seperti kejadian-kejadian dalam film zombie yang menular dari satu orang ke orang lain dan tidak dapat dihentikan. 

            Mengapa terjadi kekebalan kuman terhadp antibiotika? Secara prinsip, memang insting setiap organismelah untuk bertahan hidup dan lestari. Sehingga ketika mereka hendak dibasmi dengan antibiotika, mereka berusaha melakukan mutasi sel agar terhindar dari kepunahan. Namaun, di luar dari penyebab oleh mikroba itu sendiri, perlu disadari resistensi antibiotika lebih banyak lagi disebabkan oleh prilaku manusia. Dalam hal ini, baik oleh masyarakat sendiri, para dokter dan nakes lain seperti perawat, bidan serta apoteker, dan juga tak ketinggalan peran pemerintah. Dari semua elemen yang disebutkan di atas, terbentuk rantai saling terkait yang kemudian menciptakan lingkaran setan yang bernama pengobatan antibiotika yang tidak rasional. Kesemua elemen tersebut memiliki kontribusi terjadinya pemakaian antibiotika yang tidak rasional yang berakibat pada terjadinya resistensi obat dan sebaliknya dapat melakukan upaya-upaya untuk mencegahnya.

            Masyarakat tidak boleh membeli dan menggunakan sendiri obat golongan antibiotika tanpa resep atau pentunjuk dokter. Risiko yang dapat terjadi adalah, penyakit yang dikeluhkannya belum tentu infeksi oleh bakteri, jamur atau protozoa. Selain itu akan sangat besar kemungkinan terjadi jenis antibiotika yang dibeli tidak sesuai, ketidaktepatan dosis maupun kecukupan lama pengobatannya. Belum lagi ketidaktahuan masyarakat akan efek samping maupun interaksi dengan obat lain yang diminum. Intinya dilarang sangat keras membeli antibiotika. Tentunya isu ini akan sangat terkait dengan keberadaan apotek maupun toko obat yang wajib mengikuti regulasi yang sudah ditetapkan. Apotek harus menolak orang yang membeli antibiotika tanpa resep dokter. Begitu pula kalau hanya toko obat saja, seyogyanya tidak menyipakan obat golongn antibiotika dan obat keras. Nah, selanjutnya pemerintah baik dalam hal ini dinas kesehatan maupun BPOM harus melakukan pembinaan dan pengawasan rutin dan berkesinambungan terkait ketaatan apotek dan toko obat di wilyah kerjanya. 

            Tak kalah penting dan boleh dikatakan yang paling berperan dalam hal ini adalah para dokter maupun nakes lain seperti perawat dan bidan. Dokter diharuskan bijak dalam meresepkan antibiotika dan memenuhi prinsip-prinsip terapi rasional. Selain mengacu pada panduan terkini, dokter pun harus aktif mengawasi dan mengevaluasi penggunaan antibiotika oleh pasien-pasien yang ditanganinya. Bagi para bidan dan perawat, pemberian antibiotika seharusnya dalam pengawasan dokter. Sebab baik bidan maupun perawat tidak memiliki kewenangan dalam memberikan obat golongan antibiotika kepada pasiennya kecuali yang bertugas di daerah pelosok. Jelas sudah bagi kita, masalah resistensi antibiotika adalah ancaman kesehatan yang sangat mengerikan dan merupakan tanggung jawab bersama untuk mengatasinya. Ayo cerdas, agar kita tetap sehat!
 

  • Bagikan: