Berita Terkini

Berita dan Artikel

  • Home
  • /
  • Berita
  • /
  • Demam Berdarah Dengue, Masalah Lama Tantangan Baru
Demam Berdarah Dengue, Masalah Lama Tantangan Baru
Persi Bali 30 January 2025 Kesehatan

Demam Berdarah Dengue, Masalah Lama Tantangan Baru

Dr Putu Arya Nugraha SpPD FINASIM - PERSI Bali
Kasus demam berdarah dengue (DBD) marak lagi di musim penghujan ini. Artinya masalah penyakit lama, hadir lagi sesuai musim. Ruang-ruang perawatan penuh lagi oleh pasien DBD dan selalu ada yang mengalami derajat berat hingga terjadi komplikasi kematian. Di negara-negara maju yang juga mengalami siklus penyakit musiman seperti influenza, mereka memiliki upaya pencegahan yang lebih efektif. Selain edukasi yang baik, akses pemanfaatan vaksin pun sangat mudah dan terjangkau. Sementara di Indonesia, seperti biasa masyarakat cenderung bersikap reaktif saat peningkatan jumlah kasus dan kembali abai di kala musim telah berakhir. Akses vaksin DBD masih sulit mengingat belum menjadi program nasional dan harganya menjadi masih relatif mahal. Begitu pula sebuah program biologis yang dinamakan program nyamuk Wolbachia, meski sudah diagendakan oleh pemerintah, justru masyarakat yang belum siap oleh karena literasi yang belum memadai. 

            Fogging bukan solusi efektif. Kekeliruan persepsi masyarakat yang terus menjadi tantangan hingga kini adalah pandangan tentang fogging atau pengasapan. Sebagian besar masyarakat masih memandang, fogging dapat menuntaskan masalah penyebaran nyamuk Aides sebagai vektor infeksi DBD. Seperti yang kita ketahui, hanya berefek membunuh nyamuk dewasa. Sedangkan jentik yang masih ada, dalam beberapa hari saja sudah bisa tumbuh menjadi nyamuk dewasa. Faktanya, ketimbang memaksimalkan upaya 3M (menutup, menguran dan mengubur genangan air,) masyarakat lebih sibuk meminta fogging jika di lingkungannya ada kasus DBD. Pengasapan itu sendiri sesuai rekomendasi baru efektif jika di lingkungan tersebut terjadi kasus dengan jumlah yang cukup banyak. Artinya jumlah kasus menjadi pertimbangan untuk segera memutus rantai penularan dan dalam jangka waktu pendek tentunya. 

            Tidak semua harus opname. Kasus-ksus demam dengan dugaan DBD, tidak semuanya perlu perawatan inap di RS. Jika memakai patokan nilai lab trombosit, pasien akan disarankan opname jika di bawah 100.000/mcL. Jika trombosit masih lebih daripada itu, boleh rawat di rumah dengan istirahat, cukup nutrisi dan menjaga asupan cairan yang memadai. Pasien kadang keliru ingin segera menaikkan kadar trombosit dengan berbagai sumber obat herbal maupun suplemen. Padahal sebelum hari ketujuh, secara alamiah trombosit akan terus turun dan berbagai obat herbal maupun suplemen yang selama ini diyakini dan hanya bersumber dari mulut ke mulut, belum memiliki bukti ilmiah dapat menaikkan trombosit. Sementara asupan cairan yang cukup (air putih biasa, cairan isotonik, air buah) terbukti dapat mengurangi risiko kejadian syok pada kasus DBD. 

            Vaksin sangat potensial. Sayang sekali harga vaksin DBD masih relatif mahal saat ini. Padahal memiliki efektivitas yang sangat baik. Penyuntikan 2 kali vaksin dengan interval tiga bulan, dari jenis vaksin yang sudah tersedia saat ini dapat memberi perlindungan hinggan setidaknya 4 tahun ke depan. Dalam banyak hal, kita tidak menjadikan kesehatan sebagai prioritas. Sehingga akibat harga vaksin yang masih relatif mahal tersebut membuat masayarkat enggan untuk membeli vaksin. Mirip dengan ironi masyarakat yang mampu membeli rokok sampai 50 ribu sehari namun tidak mau membayar iuran BPJS mandiri yang hanya 120 ribu per bulan dan tetap meminta jatah KIS PBI dari pemerintah yang seharusnya hanya untuk orang-orang yang betul-betul miskin. Kembali pada vaksin DBD, semoga pemerintah segera menjadikannya program nasional sehingga harga vaksin menjadi lebih murah dan akses untuk masyarakat menjadi lebih mudah.

Tantangan program nyamuk Wolbachia. Ketika daerah-daerah lain di Indonesia saat ini, kasus DBD-nya meningkat, di Yogyakarta kasus DBD justru sangat rendah. Hal ini merupakan dampak program nyamuk Wolbachia yang sudah diterapkan di sana. Ini merupakan strategi cerdas dengan konsep biologis. Menggunakan bakteri Wolbachia yang ditransfer ke dalam tubuh nyamuk Aides dan menekan replikasi virus DBD di dalam tubuh nyamuk. Selain di Yogyakarta, saat ini program tersebut juga sudah dilaksanakan di kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Di samping program nyamuk Wobachia, di Balikpapan juga sudah menjalankan program vaksinasi. Di luar negeri, dengan wilayah yang merupakan daerah endemik DBD seperti Australia bagian utara (Darwin) atau negara-negara tropis Amerika Tengah juga sudah mengembangkan program ini. Bali dan juga sebagian besar wilayah Nusantara, belum siap menerima program ini karena pemahaman masyarakat  yang masih kurang sehingga menimbulkan kontroversi. Pemerintah melalui departemen kesehatan perlu mengoptimalkan program edukasi dan sosialisasi yang intens untuk masyarakat sebelum program bagus nyamuk Wolbachia tersebut dieksekusi.