Dr Putu Arya Nugraha SpPD FINASIM - PERSI Bali
Saat ini, kasus penyakit autoimun semakain banyak dijumpai. Ada sejumlah faktor yang menjadi penyebabnya, antara lain jumlah penduduk yang memang semakin banyak, akses pengobatan yang semakin baik, dan tentu saja juga modalitas penegakan diagnosis yang semakin lengkap. Disamping itu, adanya pengaruh lingkungan yang semakin besar, yang secara patofisiologis memang menjadi salah satu penyebab penyakit autoimun. Sebut saja perubahan iklim secara global, lapisan ozone yang kian menipis menyebabkan paparan sinar ultra violet semakin kuat, polusi udara dan lain sebagainya. Riwayat infeksi mikroorganisme patogen, yang juga menjadi salah satu pencetus penyakit autoimun pun insidennya semakin banyak dan bervariasi. Hal ini dikaitkan dengan perubahan lingkungan, status imun host (manusia) dan mutasi kuman (agent.) Pandemi Covid-19 yang terjadi baru-baru ini, banyak dikaitkan dengan meningkatnya kasus-kasus penyakit autoimun.
Di antara semua penyakit yang terjadi pada manusia, penyakit autoimun termasuk jenis penyakit yang paling sulit dikenal dan sangat banyak baru disadari, sekalipun oleh dokter, pada fase yang sudah lebih lanjut. Ini dapat dimaklumi, karena bahkan untuk penegakan diagnosis pun penyakit-penyakit autoimun tidak memiliki golden standard atau standar baku emas, yaitu suatu metode tertinggi yang disepakati sebagai penentu suatu penyakit. Umpamanya, salah satu standar baku emas untuk penyakit TBC paru adalah adanya kuman TBC pada pemeriksaan dahak pasien. Atau penyakit diabetes ditentukan secara pasti dengan memeriksa kadar gula darah pasien atau HbA1C. Tidak demikian dengan penyakit autoimun. Tidak ada satu pemeriksaan pun yang kemudian dapat diandalkan menjadi patokan untuk memastikan seorang pasien menderita penyakit tersebut. Sebagai penggantinya digunakan suatu yang disebut sebagai kriteria diagnosis. Kriteria diagnosis ini biasanya dilakukan dengan menghitung skor dari berbagai kumpulan keluhan, gejala dan tanda, pemeriksaan penunjang yang beragam untuk kemudian disimpulkan apakah sudah memenuhi kriteria menentukan seorang pasien menderita suatu penyakit autoimun.
Wajarlah kalau selama ini ada anggapan penyakit autoimun sering membuat bingung. Bukan hanya bagi penderitanya, juga bagi para dokter. Salah satu penyakit autoimun yang paling terkenal yaitu penyakit lupus, bahkan diberikan julukan penyakit dengan seribu wajah. Mengapa? Ya tentu saja oleh karena gejalanya yang sangat beragam dan sering kali dikira penyaki-penyakit lain. Misalnya karena memberi keluhan nyeri sendi, lupus dikira penyakit rematik biasa. Atau karena menyebabkan demam, sering dikira penyakit infeksi virus atau bakteri seperti demam berdarah, chikungunya atau demam tifus. Tidak jarang, lupus juga menyebabkan gejala pucat sehingga dikira hanya penyakit anemia, dan seterusnya. Tentu saja kekeliruan-kekeliruan ini memberi dampak buruk bagi pasien karena dapat menimbulkan keterlambatan dalam pemberian terapinya. Padahal, pengobatan yang semakin cepat adalah prinsip terapi penyakit autoimun agar dapat mencapai kondisi remisi. Sebaliknya, keterlambatan terapi tersebut tidak hanya meningkatkan derajat penyakit dan kecacatan, pun dapat meningkatkan angka kematian.
Kerumitan penegakan diagnosis penyakit autoimun juga dapat dilihat dari adanya berbagai kriteria diagnosis yang dikeluarkan oleh sejumlah perkumpulan seminat di bidang penyakit autoimun. Paling banyak diikuti adalah kriteria Amerika (ACR) atau Eropa (EULAR.) Indonesia pun mengembangkan kriteria diagnosis yang memadukan berbagai kriteria perkumpulan seminat penyakit autoimun seluruh dunia dengan harapan dapat meningkatkan baik sensitifitas maupun spesisifisitas diagnosis penyakit autoimun tersebut. Pada penyakit autoimun, disamping ditemukannya gejala-gejala yang menyerupai penyakit lain seperti kelainan pada sendi dan kulit, hal yang perlu diwaspadai adalah jika gejala-gejala tersebut disertai oleh kondisi tubuh yang cenderung lemas tidak wajar. Artinya, keluhan nyeri sendi yang hanya disebabkan oleh faktor usia, aktifitas berlebih maupun cedera, kondisi fisik pasien secara umum adalah normal. Disamping itu, keluhan-keluhan dan gejala tersebut, biasanya tidak memberi respon yang cukup baik dengan terapi yang sudah diberikan oleh dokter keluarga misalnya. Begitu pula gejala demam yang berlangsung lama namun tidak ditemukan penyebabnya dengan pasti.
Dengan mengetahui profil-profil penyakit autoimun tersebut, diharapkan masyarakat semakin waspada. Gejala yang membingungkan dan tidak memberi respon terapi yang cukup baik, sebaiknya segera didiskusikan dengan dokter keluarga di FKTP untuk kemungkinan dirujuk ke dokter ahli penyakit dalam. Saat ini, modalitas terapi penyakit autoimun sudah juga semakin baik dan berkembang, termasuk ditemukannya obat-obat agen biologik yang ditanggung BPJS. Harapan untuk mendapatkan hasil pengobatan yang semakin baik (remisi) kini semakin besar dengan hadirnya semakin banyak dokter ahli di bidang penyakit autoimun, pemeriksaan penunjang dan modalitas terapi yang semakin lengkap.