Dr Putu Arya Nugraha SpPD FINASIM - PERSI Bali
Selama ini, sebagian besar masyarakat cenderung mengira rokok cuma berdampak buruk bagi paru-paru atau saluran nafas. Meskipun betul, rokok sangat berisiko menyebabkan bronkitis kronis dan kanker paru, bagi para perokok, namun tentu saja dampak buruk rokok tak hanya sebatas itu. Sudah sangat pasti rokok juga dapat memberi peningkatan terhadap risiko serangan jantung, gangguan lambung terutama GERD (gastroesofagial reflux disease), stroke, gangguan kesuburan, dan tentu saja juga dampak terhadap lingkungan dan ekonomi.
Paparan jangka panjang asap rokok berserta berbagai zat racun yang terkandung di dalamnya terhadap saluran nafas dan paru-paru akan menimbulkan peradangan menahun dan kerusakan struktur paru-paru. Selain menyebabkan bronkitis kronis, peradangan menahun juga dapat memicu pertumbuhan sel abnormal pada paru yang dapat menjadi sel-sel ganas kanker. Saluran nafas memiliki struktur bernama silia, yang berfungsi seperti wiper pada kaca mobil, yang selalu mengbersihkan saluran nafas dari kontaminan dari luar termasuk mikroorganisme patogen. Nah, pada seorang perokok, struktur silia ini mengalami kerusakan. Akibatnya kontaminan dan kuman-kuman tersebut lebih mudah masuk, menyebabkan infeksi dan penyembuhan menjadi lebih sulit.
Di kalangan anak muda, sering kali mengalami keluhan lambungnya kembung, dada panas/terbakar dan rasa asam sampai ke kerongkongan, bahkan mulut. Ini merupakan gejala GERD yang sangat dipengaruhi oleh kebiasaan merokok. Paparan asap rokok dan berbagai racun yang terkandung di dalamnya menyebabkan klep yang membatasi kerongkongan dengan lambung menjadi lemah. Mengakibatkan isi lambung mudah naik kembali ke kerongkongan (reflux) bahkan gasnya dapat sampai ke mulut.
Rokok juga terbukti dapat meningkatkan risiko terjadinya bekuan darah, baik yang terjadi di dalam pembuluh darah nadi (arteri) maupun pembuluh darah balik (vena). Proses tersebut dinamakan trombosis dan bekuan darah yang terjadi disebut trombus. Apabila trombus terbentuk pada otak, dapat menimbulkan stroke. Jika trombosis terjadi pada jantung akan menyebabkan serangan jantung. Bahkan jika trombus tersebut terjadi pada paru-paru akan dapat menimbulkan kematian mendadak yang disebut dengan emboli paru. Sementara jika trombosis terjadi di dalam pembuluh darah balik atau vena dalam, terutama pada tungkai bawah, maka dapat mengakibatkan suatu deep vein thrombosis (DVT.)
Sudah diketahui pula risiko rokok menyebabkan gangguan kesuburan atau kemandulan. Hal ini pun didasari oleh efek sistemik berbagai zat racun yang terkandung di dalam rokok yang menimbulkan proses peradangan pada organ reproduksi. Terutama kondisi menahun relatif iskemik atau kekurangan suplai oksigen ke jaringan yang disebabkan oleh ikatan yang lebih kuat karbon monoksida yang berasal dari rokok dengan hemoglobin (Hb) ketimbang Hb dengan oksigen itu sendiri. Dalam hal ini jelas rokok memberi dampak radikal bebas yang begitu besar terhadap tubuh manusia.
Terhadap lingkungan, perokok dapat menyebabkan orang di sekitarnya menjadi korban perokok pasif. Justru merupakan keadaan yang lebih merugikan lagi oleh karena ada akumulasi racun di sana. Yaitu dari asap rokok itu sendiri dan juga nafas ekspirasi perokok yang mengandung karbon dioksida tubuhnya sendiri. Fenomena perokok pasif juga memberi gambaran sikap perokok yang tak bertangung jawab, tuna empati dan sudah pasti egois. Sikap dan prilaku buruk itu pun langsung berdampak pada ketidakpeduliannya pada kesehatan diri dan keluarganya. Banyak perokok status kepsertaan BPJS-nya ditanggung negara, padahal yang bersangkutan mampu setiap hari membeli rokok. Yang kalau dikalkulasi, kebutuhan uang untuk membeli rokok dalam sebulan besarnya dapat mencapai puluhan kali untuk iuran BPJS kelas 2, hehehe!