Dr Putu Arya Nugraha SpPD FINASIM - PERSI Bali
Penyakit gagal ginjal tentulah momok yang selalu menakutkan bagi siapapun. Apalagi jika gagal ginjal tersebut mencapai tahap akhir atau stadium terminal. Karena kondisi tersebut akan membutuhkan prosedur terapi cuci darah atau hemodialisis yang harus dijalani setidaknya dua kali seminggu di sepanjang sisa hidupnya. Prosedur terapi ini selain dirasakan tidak nyaman oleh penderitanya, pun dengan sendirinya akan memakan banyak sumber daya lain seperti biaya transportasi, pendampingan keluarga dan umumnya akan menghilangkan atau sangat mengurangi potensi sosial ekonomi pengidapnya. Maka menjadi mudah dimaklumi, mengapa penyakit gagal ginjal begitu ditakuti. Namun demikian, saat telah didiagnosis penyakit gagal ginjal stadium akhir dan mesti menjalani prosedur terapi cuci darah reguler, satu-satunya pilihan bagi penderita adalah menerima dengan ikhlas dan menjalani pengobatan dengan sebaik-baiknya. Begitu pula, diperlukan dukungan keluarga yang memadai dan sikap dokter dan paramedis yang senantiasa dapat memberi motivasi dan kenyamanan.
Jika telah dinyatakan gagal ginjal stadium terminal, maka ada sejumlah hal yang mesti dilakukan oleh penderitanya. Hal-hal tersebut meliputi, menerima dengan ikhlas penyakitnya tersebut, menerapkan diet yang sesuai, latihan fisik yang ringan dan teratur, minum obat rutin serta menjalani terapi cuci darah. Menerima penyakitnya dengan ikhlas dan kemudian menjalani pengobatan dengan baik dan teratur sesungguhnya merupakan kesembuhan dalam bentuk yang lain. Sikap ikhlas akan memberikan kekuatan psikologis positif bagi penderitanya dan tentu saja kemudian menunutun fisik pasien menjadi lebih bugar. Cara berpikir positif pun merupakan pintu masuk bagi ketaatan pasien dalam menjalani terapi. Terapi rutin dan teratur sangat menentukan hasil atau luaran terapi medis yang dijalani pasien. Pola makan adalah variabel berikutnya yang sangat penting.
Pasien dengan gagngguan fungsi ginjal harus mengurangi asupan protein, terutama protein hewani yaitu daging, kulit serta jeroan dan yang bersumber dari laut seperti udang, cumi-cumi dan kepiting. Hal ini disebabkan oleh karena, pembuangan limbah metabolisme protein tersebut, adalah melalui ginjal. Dengan fungsi ginjal yang sudah menurun bahkan gagal, maka limbah protein tersebut akan menumpuk dalam darah dan dapat meracuni tubuh. Oleh karena itu, asupan protein sangat perlu dibatasi dan disarankan untuk mengonsumsi sumber protein nabati seperti tahu dan tempe atau daging kaki dua dan ikan laut. Berikutnya adalah pembatasan minum air. Pasien yang menjalani cuci darah, pada umumnya sudah tidak menghasilkan air kencing. Sehingga pada pasien seperti ini, disarankan hanya minum air kurang lebih 2-3 gelas/hari atau sekitar 500-600 cc, setara dengan volume kehilangan cairan melalui penguapan tubuhnya. Apabila pasien masih bisa kencing, maka volume air yang boleh diminum adalah 500 cc ditambahkan volume kencing yang dihasilkan tersebut. Air dalam hal ini tentu saja termasuk yang bersumber dari minuman seperti teh, kopi, susu dan minuman lainnya atau kuah sup.
Untuk buah, disarankan untuk tidak mengonsumsi buah yang mengandung banyak kalium. Misalnya kelapa muda, buah belimbing atau pisang hijau. Buah melon, apel atau pisang rebus lebih disarankan untuk dimakan. Oleh karena protein sangat dibatasi, maka pemenuhan kebutuhan nutrisi diambil dari sumber karbohidrat dan lemak tak jenuh, seperti roti, biskuit atau kue tradisional, putih telur, buah apukat dan kacang-kacangan. Dalam hal ini, keluarga perlu menyajikan nutrisi yang bervariasi. Pasien gagal ginjal yang menjalani cuci darah, tetap harus melakukan olahraga. Maka jenis olahraga yang disarankan adalah olahraga fisik yang ringan, teratur dan rutin seperti jalan kaki, bersepeda di trek yang datar. Dapat dilakukan setiap hari atau setidaknya 4-5x/minggu selama 20-30 menit. Pada keadaan pasien yang lebih lemah, dapat dipilih olahraga statis, yaitu menggerakkan badan dan anggota gerak (tangan dan kaki) dalam posisi diam, baik duduk maupun berbaring. Berikutnya, pasien wajib minum sejumlah obat secara rutin dan teratur juga. Apalagi obat-obatan tersebut ditanggung juga oleh BPJS.
Masalah yang sering dihadapi pasien cuci darah adalah anemia atau kekurangan darah. Hal ini disebabkan karena kadar hormon eritropoetin yang membantu produksi sel darah merah yang dihasilkan oleh ginjal ikut menurun. Sehingga pasien kadang kala perlu menerima transfusi darah untuk meningkatkan kadar Hb-nya secera lebih cepat sampai target cukup Hb 8 atau 9 gr/dL. Lalu kadar Hb pasien akan dipertahankan atau ditingkatkan dengan pemberian suntikan hormon eritropoetin sintetik setiap setelah pasien menjalani cuci darah. Dengan demikian, kadar Hb darah pasien diharapkan sekitar 11-12 g/dL. Dan tentu saja yang terakhir, pasien harus menjalani cuci darah dengan taat dan teratur. Sebetulnya pasien tetap memiliki peluang untuk berhenti cuci darah dengan mengganti metode terapi pengganti ginjalnya yaitu menjalani cangkok ginjal. Berita baiknya adalah, sudah sekitar 10 tahun ini, di RSUP Prof Ngurah Denpasar sudah melayani prosedur cangkok ginjal.
Disamping berbagai prosedur terapi di atas, dokter dan paramedisnya diharapkan dapat menciptakan suasana fisik ruangan dan dukungan psikologis yang senantiasa positif dan afirmatif di dalam unit hemodialisisnya. Perlu inovasi untuk menciptakan kenyamanan dan hubungan yang hangat dengan para pasien. Sesekali dapat mengadakan kegiatan kebersamaan di luar gedung seperti rekreasi atau ibadah, yang dapat menumbuhkan semangat bagi para pasien. Begitu pula kejutan-kejutan yang dapat menyentuh perasaan pasien dan keluarganya. Sehingga spirit tersebut dapat memberi inspirasi kepada keluarga pasien yang selalu mendampingi, agar kesabaran dan daya tahan mereka dapat terjaga. Dengan demikian, pasien pada akhirnya dapat menerima dengan ikhlas penyakitnya, dan itu adalah bentuk lain dari suatu kesembuhan.